Halo semua, kembali lagi saya.. Setelah tadi berpikir mau ngepost apa sambil main game.. heheee.. Sekarang saya akan ngepost tentang PURA GUNUNG KAWI. Pada tau kan?? Pura gunung kawi itu lho yang terkenal di seluruh dunia, yang letaknya di Bali.. hehehe.. mari langsung baca saja artikelnya...
Salah satu peninggalan purba yang terkenal di Bali adalah pura Gunung Kawi atau candi Gunung Kawi. Pura Gunung Kawi terletak di Banjar Penaka yang termasuk wilayah Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, yang berjarak sekitar 40 km dari ibukota Denpasar. Lingkungan Pura Gunung Kawi sendiri, letaknya di samping komplek pertama candi dan di dalam lingkungan pura ini terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti Pelinggih dan Bale Perantenan. Pura Gunung Kawi ini digunakan oleh umat Hindu pada saat upacara Piodalan yang dilakukan setiap bulan Purnama untuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.
Pura ini disebut juga Candi Gunung Kawi, atau biasa juga dijuluki Candi Tebing Kawi. Meskipun merupakan salah satu situs purbakala yang dilindungi di Bali, tempat ini tetap menjadi tempat bersembahyang umat Hindu hingga sekarang. Nama Gunung Kawi sendiri konon berasal dari kata gunung (= gunung atau pegunungan) dan kawi (=pahatan). Jadi, nama Gunung Kawi seolah menyiratkan makna bahwa di tempat inilah sebuah gunung dipahat untuk menjadi sebuah candi. Kompleks candi yang unik ini pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Sejak itu, candi ini mulai menarik minat para peneliti, terutama para peneliti arkeologi kuno di Bali. Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu.
Menurut sejarah pura Gunung Kawi di bangun pada jaman dinasti warmadewa oleh Raja Udayana.Raja Udayana adalah raja yang berasal dari dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa beliau menikah dengan putri dari empu sendok dari Jawa Timur (kediri) yang bernama Gunapriya Dharma Patni, dari perkawinan ini beliau menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaannya di jawa timur dibagi 2(dua). Pendeta budha yang bernama Mpu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Mpu Kuturan.
Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1049-1077 dan dibawah pemerintahanya Bali merupakan daerah yang subur dan tentram. Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi dikomplek Candi Gunung Kawi. Tulisan yang terdapat di pintu masuk situs ini berbunyi ” Haji Lumah Ing Jalu” yang berarti Sang Raja dimakamkan di “Jalu” sama dengan “susuh” dari (ayam jantan) yang bentuknya sama dengan Kris, maka perkataan ” Ing Jalu” dapat ditafsirkan sebagai petunjuk ” Kali Kris” atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di Jalu dimaksud adalah Raja Udayana, Anak Wungsu, dan 4 orang permaisuri Raja serta Perdana Mentri raja.
Versi lainnya yang berasal dari cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar. Dengan kesaktiannya, konon Kebo Iwa menatahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding batu cadas di Tukad Pakerisan itu. Dinding batu cadas tersebut seolah dipahat dengan halus dan baik, sehingga membentuk gugusan dinding candi yang indah. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang banyak dengan waktu yang relatif lama itu, konon mampu diselesaikan oleh Kebo Iwa selama sehari semalam
Banyak peninggalan-peninggalan kuno yang terdapat di Gunung Kawi, namun yang paling terkenal adalah candinya. Peninggalan-peninggalan purba yang di temukan di pura Gunung Kawi adalah candi, ceruk dan peripih.1)Candi, Istilah candi berasal dari kata“Candhika” , nama dewi Durga sebagai dewi maut. Bangunan candi digunakan untuk memuliakan orang yang sudah meninggal, khususnya raja dan orang terkemuka. Pura Candi Gunung Kawi dibagi menjadi empat kelompok. Ada lima kelompok candi dipahatkan di tebing timur Sungai Pakerisan berjejer dari utara ke selatan. Kelima candi ini menghadap ke barat. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ”haji lumah ing jalu”. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah stana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya. Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ”rwa anakira”. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu.
Sementara di tebing barat Sungai Pakerisan terdapat empat kelompok candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan, candi itu berjejer dari utara keselatan menghadap ke timur. Menurut Dr. R. Goris, keempat candi ini adalah sebagai padharman empat permaisuri raja. Di samping itu ada satu pahatan candi lagi terletak di tebing barat daya Sungai Pakerisan.Di candi itu ada tulisan dengan bunyi ”rakryan” kemungkinan candi ini sebagai padharman dari seorang patih kepercayaan raja. Karena itulah diletakkan di sebelah barat daya. ”.
Candi lain yang masih satu kompleks dengan Candi Gunung Kawi adalah gapura yang dikenal dengan sebutan gapura candi ke-10 dan tempat pertapaan yang disebut Geria Pedanda. Para ahli menyebut tempat ini sebagai “Makam ke-10”. Penamaan oleh para ahli ini didasarkan pada tulisan singkat dengan huruf Kediri yang berbunyi “rakryan”, yang jika ditafsirkan merupakan tempat persemayaman seorang perdana menteri atau pejabat tinggi kerajaan.2) Ceruk, di bagian lain, agak jauh ke arah tenggara dari kompleks Candi Gunung Kawi, melewati persawahan yang menghijau, terdapat beberapa ceruk, yang merupakan tempat pertapaan dan sebuah wihara.Ceruk ini nampaknya sebagian belum terselesaikan secara sempurna oleh pembuatnya. 3) Peripih, peripih merupakan berbagai benda yang digunakan untuk meletakan abu jenazah pada zaman ini. Peripih dianggap sebagai lambang zat jasmaniah, rohnya telah bersatu dengan dewa penitisnya. Peripih diletakkan dalam peti batu didalam dasar bangunan. Di atas peripih dibuatkan sebuah patung dari raja sebagai dewa, yang menjadi pemujaan.
Pura Gunung Kawi menjadi daerah tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun nusantara, Pura Gunung Kawi memiliki fasilitas antara lain lahan parkir, warung makan minum, kios-kios cenderamata dan toilet umum. Kompleks Candi Gunung Kawi memang sengaja dibuat untuk persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun makna persemayaman di sini bukan sebagai kuburan untuk badan sang Raja dan keluarganya, melainkan dalam pengertian simbolis, yakni untuk penghormatan kepada sang raja. Oleh sebab itu, mengunjungi tempat ini Anda akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks Candi Gunung Kawi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, sembahyang, atau untuk sekedar berwisata. Lokasinya yang sejuk dan terletak persis di tepi sungai membuat kompleks percandian ini menawarkan aura ketenangan batin yang dalam.
Penghormatan rakyat terhadap rajanya menjadi salah satu daya tarik dari pura ini Terlihat pada saat upacara besar (karya gede) kedatangan wisatawan asing semakin banyak dari biasanya, menurut beberapa penduduk, para wisatawan asing tertarik atas umat hindu yang sangat menghormati rajanya. Dimana ketika sedang ada karya gede umat hindu dari berbagai daerah datang untuk mengikuti sesi upacara yang berangsung dalam beberapa hari ini. Banyaknya umat hindu yang datang mebakti ini tidak lain karena mereka ingin menunjukan rasa hormat terhadap sang raja, dimana sang raja bagaikan seorang ayah mengayomi kehidupan rakyatnya mendapatkan rasa aman dan kesejahteraan secara adil akan dihormati oleh rakyatnya sampai sang raja menjadi roh suci atau Dewa Pitara. Penghormatan pemimpin bagaikan menghormati ayah kandung seperti itu karena rakyat benar-benar merasa mendapatkan perlindungan dari pemimpinnya seperti anak mendapatkan perlindungan dari ayahnya sendiri.








0 comments:
Post a Comment