Thursday, July 3, 2014

Shock Kardiogenik

Jantung,sebuh organ yang seukuran kepalan tangan yng mempunyai peran yang sangat penting bagi kelangsungan hidup individu. Untuk dapat memompa darah guna memenuhi kebutuhan tubuh, diperlukan beberapa syarat yaitu jumlah darah yang cukup pada akhir pengisian jantung (preload), kontraktilitas memadai, frekuensi detk jantung tidak terlalu cepat atau lambat, dan tahanan perifer yang rendah (after load). Jika keempat syarat ini tidak terpenuhi maka akn terjadi penurunan curah jantung atau cardiac output (COP).

Kerusakkan jantung mengakibatkan penurunan curah jantung , yang pada gilirinnnya menurunkan tekanan darah arteri ke organ-organ vital. Aliran darah ke arteri coroner berkurang, sehingga asupan oksigen ke jantung  menurun, selnjutnya akan daoat meningkatkan iskemia dan penurunan lebih lanjut kemmpuan jantung untuk memompa darah secara efektif, akhirnya terjadilah kondisi yang kita sebut dengan shock kardiogenik .
Dalam keadaan shock yang berat terjadi kerusakkan sel yang tak dapat dipulihkan kembali (shock irreversible), oleh karena itu penting untuk mengenali keadaan-keadaan tertentu yang dapat mengakibatkan shock. Meningkatnya kematian akibat shock kardiogenik sangat tinggi yaitu antara 80-90 persen, penanganan yang cepat dan tepat pada penderita shock kardiogenik ini  merupakan cara yang dianjurkan untuk menyelamatkan jiwa penderita dari kematin.
Penyebab shock kardiogenik yang paling sering ditemukan adalah karena infark jantung akut dan kemungkinan terjadinya pada infark akut 5-10 persen. Shock merupakan komplikasi infark yang paling ditakuti karena mempunyi mortalitas yang sangat tinggi. Walaupun akhir-akhir ini angka kematian dapat diturunkn sampai 56 persen, shock kardiogenik masih merupkan penyebab kematian pada pasien infark yang dirawat di rumah sakit.
Penyebb lain adalah kardiomiopati (penyakit yang mengeni otot jantung), kelinan katup jantung, kelainan kongenital jntung, dan cardiopulmonary bypass yang terlalu lama.
Cara Menangani shock kardiogenik :
Menjalani pengobatan emergensi yang bertujuan  menstabilkan hemodinamik pasien dengan cara :
1.       Perawatan intensif atau intensive cardiac care unit
2.       Pastikana jalannya tetap adekuat, bila tidak sadar sebaiknya dilakukan intubasi
3.       Berikas oksigen 8-15 liter/menit dengan menggunakan masker untuk mempertahankan saturasi  O2 diatas 95 persen
4.       Pemeriksaan hipoksia, gangguan elektrolit, dan keseimbangan asam basa yang terjadi
5.       Pemberian obat-obatan sepert :
a.       Morfin sulfat 4-8 mg, bila nyeri.
b.      Anti ansietas, bila cemas
c.       Digitalis, bila takaritmia dan terjadi atrial fibrilasi dengan respons ventrikel yang cepat
d.      Sulfas atropine, bila frekuensi jantung <50 kali/menit
e.      Obat untuk meningkatakan kekuatan otot jantung berkontraksi seperti Dobutamin (inotropic dan konotropik), bila perfusi jantung tidak adekuat.
f.        Vasopresor atau Norepinefrin
g.   Dierutik untuk meningkatkan pengeluaran air dalam tubuh dan mengurangi beban kerja jantung
h.  Yang terpenting adalah menghentikan penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan darah
6.       Bila mungkin lakukan pemasangan katerisasi vena sentralis
7.       Pada shock kardigenik dengan penyebab dasar sindrom coroner akut, maka pompa balon aorta atau Intra Aortic Bal loon Pump (IABP) yang berfungsi mengurangi resistensi ejeksi ventrikel kiri, meningkatkan aliran darah coroner dan sistemik dengan penentuan waktu yang tepat antara inflasi dan deflasi balon terhadap siklus jantung.
SSumber artikel : Panitian The 3rd Bali Cardiology dalam Majalah Bali Post



0 comments:

Post a Comment