Jantung,sebuh organ yang seukuran kepalan tangan yng
mempunyai peran yang sangat penting bagi kelangsungan hidup individu. Untuk
dapat memompa darah guna memenuhi kebutuhan tubuh, diperlukan beberapa syarat
yaitu jumlah darah yang cukup pada akhir pengisian jantung (preload), kontraktilitas memadai,
frekuensi detk jantung tidak terlalu cepat atau lambat, dan tahanan perifer
yang rendah (after load). Jika
keempat syarat ini tidak terpenuhi maka akn terjadi penurunan curah jantung
atau cardiac output (COP).
Kerusakkan jantung mengakibatkan penurunan curah jantung ,
yang pada gilirinnnya menurunkan tekanan darah arteri ke organ-organ vital.
Aliran darah ke arteri coroner berkurang, sehingga asupan oksigen ke
jantung menurun, selnjutnya akan daoat
meningkatkan iskemia dan penurunan lebih lanjut kemmpuan jantung untuk memompa
darah secara efektif, akhirnya terjadilah kondisi yang kita sebut dengan shock kardiogenik .
Dalam keadaan shock yang berat terjadi kerusakkan sel yang
tak dapat dipulihkan kembali (shock
irreversible), oleh karena itu penting untuk mengenali keadaan-keadaan
tertentu yang dapat mengakibatkan shock.
Meningkatnya kematian akibat shock kardiogenik
sangat tinggi yaitu antara 80-90 persen, penanganan yang cepat dan tepat pada
penderita shock kardiogenik ini merupakan cara yang dianjurkan untuk
menyelamatkan jiwa penderita dari kematin.
Penyebab shock kardiogenik
yang paling sering ditemukan adalah karena infark jantung akut dan kemungkinan
terjadinya pada infark akut 5-10 persen. Shock
merupakan komplikasi infark yang paling ditakuti karena mempunyi mortalitas
yang sangat tinggi. Walaupun akhir-akhir ini angka kematian dapat diturunkn
sampai 56 persen, shock kardiogenik
masih merupkan penyebab kematian pada pasien infark yang dirawat di rumah
sakit.
Penyebb lain adalah kardiomiopati (penyakit yang mengeni
otot jantung), kelinan katup jantung, kelainan kongenital jntung, dan cardiopulmonary bypass yang terlalu
lama.
Cara Menangani shock kardiogenik :
Menjalani pengobatan emergensi yang bertujuan menstabilkan hemodinamik pasien dengan cara :
1.
Perawatan intensif atau intensive cardiac care unit
2.
Pastikana jalannya tetap adekuat, bila tidak
sadar sebaiknya dilakukan intubasi
3.
Berikas oksigen 8-15 liter/menit dengan
menggunakan masker untuk mempertahankan saturasi O2 diatas 95 persen
4.
Pemeriksaan hipoksia, gangguan elektrolit, dan
keseimbangan asam basa yang terjadi
5.
Pemberian obat-obatan sepert :
a.
Morfin sulfat 4-8 mg, bila nyeri.
b.
Anti ansietas, bila cemas
c.
Digitalis, bila takaritmia dan terjadi atrial
fibrilasi dengan respons ventrikel yang cepat
d.
Sulfas atropine, bila frekuensi jantung <50
kali/menit
e.
Obat untuk meningkatakan kekuatan otot jantung
berkontraksi seperti Dobutamin (inotropic dan konotropik), bila perfusi jantung
tidak adekuat.
f.
Vasopresor atau Norepinefrin
g. Dierutik untuk meningkatkan pengeluaran air
dalam tubuh dan mengurangi beban kerja jantung
h. Yang terpenting adalah menghentikan penggunaan
obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan darah
6.
Bila mungkin lakukan pemasangan katerisasi vena
sentralis
7.
Pada shock
kardigenik dengan penyebab dasar sindrom coroner akut, maka pompa balon
aorta atau Intra Aortic Bal loon Pump (IABP)
yang berfungsi mengurangi resistensi ejeksi ventrikel kiri, meningkatkan aliran
darah coroner dan sistemik dengan penentuan waktu yang tepat antara inflasi dan
deflasi balon terhadap siklus jantung.
SSumber artikel : Panitian The 3rd
Bali Cardiology dalam Majalah Bali Post







0 comments:
Post a Comment