Friday, June 27, 2014

Kerja Keras Sang Pendulang Emas

             Siang ini cuaca sangat mengerikan, badai dan petir yang menyambar. Tetapi, ini tidak menyulitkan Karso yang berprofesi sebagai pendulang emas di lereng Bukit Kalimanjaro. Suami sekaligus ayah dari anak-anaknya, bekerja tidak kenal lelah, hanya demi tungku yang terus mengepul dan perut yang tak lagi bergenderang.
                    Karso, ya Karso, seseorang yang tidak berpendidikan, dan hanya mengandalkan mendulang. Pada suatu hari, disaat cuaca sedang mendukung, ia pergi bekerja seperti biasa, mengalirkan air dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, mengeruk perut bumi. Di fikirannya hanya satu “Tuhan, butiran emas ini bukan untuk hamba, tetapi untuk anak dan istri hamba, jika engkau ingin mengambil nyawa hamba, ambillah, tetapi jangan ambil emas ini” kata Karso setiap kali mendulang.


                    Pagi, siang, sore, hingga matahari hampir tenggelam. “Karso sudahlah, hari ini kita belum beruntung, mungkin esok akan lebih baik” kata Ujang sembari membereskan peralatannya. Karso yang meratapi piringannya, tidak menyadari bahwa air sungai sedang tinggi. Beruntung Ujang dengan cepat menyadarkan Karso. Akhirnya mereka cepat-cepat kembali ke rumah.
                    Keesokan harinya, suasana sepi di tempat penambangan, kini berubah menjadi ramai karena banyak pengunjung. Karso dan Ujang kaget dengan mulut ternganga melihat banyaknya pengunjung tersebut. “Pak, tolong saya, kamera saya terjatuh di tepi sungai itu, bisakah bapak mengambilnya?” kata salah seorang dari pengunjung itu. Dengan tidak berfikir panjang, Karso langsung pergi ke tepi sungai untuk membantu gadis itu. Dari situlah Karso teringat dengan anak gadisnya yang telah tiada karena tenggelam di sungai itu.
                   Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya Karso berpamitan dengan istri dan anak-anaknya untuk pergi bekerja. Saat itu cuaca sangat cerah, dan seperti biasa Karso dan Ujang menaikkan pasir dari dalam perut bumi. Tetapi cuaca tiba-tiba berubah, hujan yang disertai petir yang menyambar, tetapi tidak menyurutkan semangat Karso. Karso terus berdoa sambil mengayak pasir yang mengandung emas. Tanpa ia sadari, air sungai meluap dan menghanyutkan segala yang ada termasuk Karso dan piringan yang ia bawa.
                   Danang yang ada di tepi sungai saat itu hanya bisa meratapi nasib Karso. “Karso, maafkan aku!” kata Danang sambil terus memanggil-manggil nama Karso. Istri dan anak Karso yang mengetahui kejadian tersebut, langsung pergi ke tempat penambangan.
                    Sesampainya disana, mereka menangis. Sutiyah istri Karso tiba-tiba tidak sadarkan diri. “Sungguh malang nasibmu pak” kata Siti anak perempuan Karso. “Tuhan, tidak cukupkah engkau mengambil Arini kakak perempuan ku?,kenapa engkau tega memanggil bapak yang menjadi tulang punggung di keluarga kami” kata Dama anak laki-laki Karso.
                    1 Km dari pertambangan itu, ada seorang gadis yang sedang memancing di sungai. Tiba-tiba tali pancingnya bergerak-gerak, dengan reflek, gadis itu menariknya dan mendapati seseorang sedang tergeletak tidak sadarkan diri. Orang itu adalah Karso, Gadis itu diduga bernama Sany yang sedang menjalani study tour di lereng Bukit Kalimanjaro. Sany yang terkejut, langsung berteriak ketakutan. Orang-orang yang ada di tempat itu langsung menolong Karso. Setelah beberapa jam, akhirnya Karso kembali sadar.
                     Warga yang menanti Karso di tambang dengan perasaan cemas, kini kembali menunjukkan wajah yang senang, karena Karso telah kembali dengan selamat. Istri dan anak-anaknya langsung memeluk Karso dengan penuh kasih dan sayang. Mereka langsung kembali kerumah dengan perasaan yang gembira. Sesampainya mereka dirumah, Sutiyah langsung merayakan dengan singkong rebus dan sejumput garam laut. Mereka sekeluarga larut dalam kehangatan yang dirasakan seperti teh panas yang dihidangkan oleh Siti.
                    Keesokan harinya, tanpa ada rasa trauma, Karso langsung berangkat kerja dengan langkah yang selalu awas. Butir demi butir pasir telah Karso taklukkan, tetapi satupun butir emas belum ditaklukkan Karso. Dengan sabar Karso terus mendulang, tiba-tiba sebutir emas berada di bawah mata Karso. Betapa senangnya Karso. “Tuhan, terima kasih, engkau telah mengabulkan permohonanku!” kata Karso. Karso menjualnya dengan harga yang sangat murah, 50.000. Sungguh harga yang tidak pantas untuk pengorbanan Karyo. Sementara di kota besar, emas di jual dengan harga yang tinggi.
                   Dengan bersemangat, Karso kembali kerumahnya. “Syukur, hari ini kita bisa makan nasi dan sayur asem!” kata Karso dengan sabar. Tidak lama kemudian, datang seorang gadis membawa sembako dan sapi serta ayam yang akan diberikan kepada Karso. Karso senang sekaligus terharu. “Pak, saya berterima kasih kepada bapak, karena telah membantu saya mengambil kamera saya yang terjatuh” kata gadis itu. “Sany, kamu telah membantu bapak dua kali, terima kasih atas jasa kamu selama ini, bapak tidak tahu bagaimana membalasnya” kata Karso. Setelah ngobrol cukup lama, Sany kembali ke rumahnya.
                    Dengan kerja keras yang cukup lama, akhirnya Karso menjadi peternak yang sukses dan mendirikan pertambangan dengan fasilitas yang memadai. Anak-anaknya juga berpendidikan.
Pesan untuk pemerintah :
“SUNGGUH HASIL YANG TIDAK SETIMPAL UNTUK KERJA KERAS DAN PENGORBANAN PENDULANG EMAS. SELAIN ITU, RESIKONYA ADALAH NYAWA”


Nah, sekarang Karso serba kecukupan dan selalu membantu orang lain.
Penulis : Diah Sanjiwani

1 comment: