Siang ini cuaca sangat mengerikan, badai
dan petir yang menyambar. Tetapi, ini tidak menyulitkan Karso yang berprofesi
sebagai pendulang emas di lereng Bukit Kalimanjaro. Suami sekaligus ayah dari
anak-anaknya, bekerja tidak kenal lelah, hanya demi tungku yang terus mengepul
dan perut yang tak lagi bergenderang.
Karso, ya Karso, seseorang yang tidak
berpendidikan, dan hanya mengandalkan mendulang. Pada suatu hari, disaat cuaca
sedang mendukung, ia pergi bekerja seperti biasa, mengalirkan air dari tempat tinggi
ke tempat yang rendah, mengeruk perut bumi. Di fikirannya hanya satu “Tuhan,
butiran emas ini bukan untuk hamba, tetapi untuk anak dan istri hamba, jika
engkau ingin mengambil nyawa hamba, ambillah, tetapi jangan ambil emas ini”
kata Karso setiap kali mendulang.
Pagi, siang, sore, hingga matahari hampir
tenggelam. “Karso sudahlah, hari ini kita belum beruntung, mungkin esok akan
lebih baik” kata Ujang sembari membereskan peralatannya. Karso yang meratapi
piringannya, tidak menyadari bahwa air sungai sedang tinggi. Beruntung Ujang
dengan cepat menyadarkan Karso. Akhirnya mereka cepat-cepat kembali ke rumah.
Keesokan harinya, suasana sepi di tempat
penambangan, kini berubah menjadi ramai karena banyak pengunjung. Karso dan
Ujang kaget dengan mulut ternganga melihat banyaknya pengunjung tersebut. “Pak,
tolong saya, kamera saya terjatuh di tepi sungai itu, bisakah bapak
mengambilnya?” kata salah seorang dari pengunjung itu. Dengan tidak berfikir
panjang, Karso langsung pergi ke tepi sungai untuk membantu gadis itu. Dari
situlah Karso teringat dengan anak gadisnya yang telah tiada karena tenggelam
di sungai itu.
Beberapa hari kemudian, untuk
pertama kalinya Karso berpamitan dengan istri dan anak-anaknya untuk pergi
bekerja. Saat itu cuaca sangat cerah, dan seperti biasa Karso dan Ujang
menaikkan pasir dari dalam perut bumi. Tetapi cuaca tiba-tiba berubah, hujan
yang disertai petir yang menyambar, tetapi tidak menyurutkan semangat Karso.
Karso terus berdoa sambil mengayak pasir yang mengandung emas. Tanpa ia sadari,
air sungai meluap dan menghanyutkan segala yang ada termasuk Karso dan piringan
yang ia bawa.
Danang yang ada di tepi sungai saat
itu hanya bisa meratapi nasib Karso. “Karso, maafkan aku!” kata Danang sambil
terus memanggil-manggil nama Karso. Istri dan anak Karso yang mengetahui
kejadian tersebut, langsung pergi ke tempat penambangan.
Sesampainya disana, mereka menangis. Sutiyah
istri Karso tiba-tiba tidak sadarkan diri. “Sungguh malang nasibmu pak” kata
Siti anak perempuan Karso. “Tuhan, tidak cukupkah engkau mengambil Arini kakak
perempuan ku?,kenapa engkau tega memanggil bapak yang menjadi tulang punggung
di keluarga kami” kata Dama anak laki-laki Karso.
1 Km dari pertambangan itu,
ada seorang gadis yang sedang memancing di sungai. Tiba-tiba tali pancingnya
bergerak-gerak, dengan reflek, gadis itu menariknya dan mendapati seseorang
sedang tergeletak tidak sadarkan diri. Orang itu adalah Karso, Gadis itu diduga
bernama Sany yang sedang menjalani study
tour di lereng Bukit Kalimanjaro. Sany yang terkejut, langsung berteriak
ketakutan. Orang-orang yang ada di tempat itu langsung menolong Karso. Setelah
beberapa jam, akhirnya Karso kembali sadar.
Warga yang menanti Karso
di tambang dengan perasaan cemas, kini kembali menunjukkan wajah yang senang,
karena Karso telah kembali dengan selamat. Istri dan anak-anaknya langsung
memeluk Karso dengan penuh kasih dan sayang. Mereka langsung kembali kerumah
dengan perasaan yang gembira. Sesampainya mereka dirumah, Sutiyah langsung
merayakan dengan singkong rebus dan sejumput garam laut. Mereka sekeluarga larut
dalam kehangatan yang dirasakan seperti teh panas yang dihidangkan oleh Siti.
Keesokan harinya, tanpa ada
rasa trauma, Karso langsung berangkat kerja dengan langkah yang selalu awas.
Butir demi butir pasir telah Karso taklukkan, tetapi satupun butir emas belum
ditaklukkan Karso. Dengan sabar Karso terus mendulang, tiba-tiba sebutir emas
berada di bawah mata Karso. Betapa senangnya Karso. “Tuhan, terima kasih,
engkau telah mengabulkan permohonanku!” kata Karso. Karso menjualnya dengan harga
yang sangat murah, 50.000. Sungguh harga yang tidak pantas untuk pengorbanan
Karyo. Sementara di kota besar, emas di jual dengan harga yang tinggi.
Dengan bersemangat, Karso kembali
kerumahnya. “Syukur, hari ini kita bisa makan nasi dan sayur asem!” kata Karso
dengan sabar. Tidak lama kemudian, datang seorang gadis membawa sembako dan
sapi serta ayam yang akan diberikan kepada Karso. Karso senang sekaligus
terharu. “Pak, saya berterima kasih kepada bapak, karena telah membantu saya
mengambil kamera saya yang terjatuh” kata gadis itu. “Sany, kamu telah membantu
bapak dua kali, terima kasih atas jasa kamu selama ini, bapak tidak tahu
bagaimana membalasnya” kata Karso. Setelah ngobrol cukup lama, Sany kembali ke
rumahnya.
Dengan kerja keras yang cukup lama,
akhirnya Karso menjadi peternak yang sukses dan mendirikan pertambangan dengan
fasilitas yang memadai. Anak-anaknya juga berpendidikan.
Pesan untuk pemerintah :
“SUNGGUH HASIL YANG TIDAK SETIMPAL
UNTUK KERJA KERAS DAN PENGORBANAN PENDULANG EMAS. SELAIN ITU, RESIKONYA ADALAH
NYAWA”
Nah, sekarang Karso serba kecukupan
dan selalu membantu orang lain.
Penulis : Diah Sanjiwani







keren bro :D visit back
ReplyDelete